DASAR TEORI
2.1. Regangan
Jika suatu benda ditarik atau ditekan, gaya (F) yang diterima benda mengakibatkan adanya ketegangan antar partikel dalam material yang besarnya berbanding lurus. Perubahan tegangan partikel ini menyebabkan adanya pergeseran struktur material – regangan atau himpitan – yang besarnya juga berbanding lurus. Karena adanya pergeseran, maka terjadilah deformasi bentuk material – misalnya perubahan panjang – menjadi
L + ∆L (atau L - ∆L). dimana L adalah panjang awal benda dan ∆L adalah perubahan panjang yang terjadi. Rasio perbandingan antara ∆L terhadap L inilah yang disebut strain (regangan) dan dilambangkan dengan ε (epsilon).


ε = Regangan / Strain (µm/m atau µε)
L = Panjang Benda Mula-mula (m)
∆L = Perubahan Panjang Benda (µm)
Umumnya, perbandingan antara ∆L dan L adalah sangat kecil dan biasanya bernilai “10 -6” atau biasa ditulis dalam satuan “µm/m” atau “µε” (micro-epsilon).
Lawan dari kata regangan adalah penyempitan / himpitan dan diindikasikan dengan lambang “–“ (minus/negatif) dalam penulisan angka bilangannya.
Regangan Longitudinal, Lateral dan Rasio Poisson.

L = Panjang Benda Mula-mula (m)
∆L = Perubahan Panjang Benda (µm)
d 0 = Diameter Penampang Mula-mula (m)
∆d= Perubahan Diameter Penampang (µm)
Sebagaimana gambar diatas, setiap batang yang ditarik (– ditekan) selain mengalami perpanjangan (– pemendekan), juga mengalami penyusutan (– perluasan) pada permukaan penampangnya. Keduanya dapat disebut sebagai regangan. Oleh karenanya, dibuatlah kesepakatan bahwa:
Regangan yang arahnya segaris dengan arah gerak gaya disebut regangan Longitudinal (
), sedangkanRegangan yang arahnya tegak lurus terhadap arah gerak gaya disebut regangan lateral (
).Besarnya nilai perbandingan antara regangan lateral (ε 2) terhadap regangan longitudinal (ε 1) pada suatu bahan/material adalah tetap (konstan). Nilai perbandingan inilah yang disebut dengan Rasio Poisson – dilambangkan dengan “ ν “ [nu] – yang umumnya bernilai pada kisaran angka 0.3.
0 comments:
Post a Comment